Archive for the ‘Short Story’ Category

THE DEAD GIRL

Monday, March 30th, 2009

Genre: Romance, Gothic

Marah, kesal, cemburu, kecewa. Itulah yang ku rasakan saat ini. Lagi-lagi nama itu yang ku dengar dari mulutnya. Kututup teleponku tanpa menghiraukan orang di balik telepon yang tadinya kuajak berbicara. Awal pembicaraan terasa begitu mesra dan menyenangkan. Tapi kian lama pembicaraan lewat telepon itu semakin menusuk hati.

Kulempari telepon selularku ke tempat tidur seiring dengan sembarang ku jatuhkan badanku ke tempat yang sama. Aku menutup wajahku dengan bantal berharap segala kekesalanku akan sirna saat ini juga. Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena Eri sudah sekian kalinya membuatku seperti ini.

Kriiing… Kriiing…
Hampir saja aku tertidur, aku dikejutkan oleh suara telepon selularku. Kukira telepon masuk, ternyata cuma SMS. Kupandangi sejenak layar HPku. Lalu kubuka pesan yang masuk tersebut sambil mengucek-ngucek mataku yang sembab.

Yank, km knp sih? Kok tlpnya dimatiin?

Kekesalanku yang tadinya sudah mulai terhapus oleh rasa kantukku kini kembali muncul. Aku teringat lagi akan kejadian tadi. Tapi aku nggak boleh seperti ini.

Sejak awal hubunganku dengan Eri aku sudah berkomitmen untuk menjadi pacar yang baik dan selalu berusaha menjaga hubungan ini agar berlangsung sampai ke pernikahan. Kedengarannya memang berlebihan, tapi itulah diriku saat ini. Entah kenapa aku merasa yakin dengan pilihan hatiku saat ini walau kadang dia membuatku kesal.

Lagi-lagi aku mencoba untuk mengalah. Ini sudah yang kesekian kalinya tapi aku tidak merasa terpaksa sedikitpun. Aku merasa wajib melakukannya demi impianku dan Eri.

Kuraih telepon selularku dan kucari nama kekasihku di buku telepon. Aku terdiam sejenak mengingat dia baru saja membuatku kesal. Sempat aku merasa bingung, apa aku harus mengalah lagi atau biarkan saja agar Eri sadar dengan sendirinya. Tapi aku rasa aku terlalu baik. Aku tidak bisa membiarkan semuanya membuat hatiku terasa diganjali oleh rasa gelisah karena bertengkar dengan Eri.

Jadi kuputuskan untuk menelepon saja walau kesal masih melanda.
“Halo…”, sapanya di balik telepon.
“…”, aku terdiam berusaha memperlihatkan kekesalanku agar dia mengerti.

Sadar aku tidak menghiraukannya Eri malah balik marah. Aku jadi semakin tidak sanggup. Daripada begini lebih baik kusudahi saja kekesalanku. Aku berusaha untuk melupakan apa yang sudah terjadi sehingga obrolan kita kembali lancar tanpa ada masalah dan pertengkaran. Sampai pada obrolan berikutnya…

“Iya. Aku ga pengen yank seperti Lisa. Padahal dulu aku sayang banget sama dia tapi dia malah ninggalin aku dan jalan sama cowok laen. Cowoknya bawa mobil sih. Kesedihanku yang paling mendalam itu pas aku ditinggal sama Lis.”, katanya panjang lebar.

Mati aja deh aku. Lagi-lagi nama itu yang terucap. Kenapa selalu ada nama itu dalam hubungan kami? Aku merasa Eri sangat menyayangi cewek yang bernama LIS itu sampai-sampai dia sama sekali tidak pernah membicarakan mantan-mantan pacarnya kecuali si LIS ini.

Aku hanya terdiam tak bisa berbuat apa. Kucoba menahan rasa marah dan cemburuku tapi kali ini aku tak sanggup.
“Ow gitu? Kalo gitu kenapa nggak jadian aja lagi sama dia? Bukannya yank sayang banget ma dia? Pacarin aja dia. Dinda tau kok kalo yank masih sayang ma dia.”, kataku ketus sambil berusaha menahan amarah.
“Weh, ngapaen aku jadian ama dia lagi. Dia itu udah menghianati aku. Aku paling benci ama orang-orang kayak gitu. Bayangkan dong, kalo yank digituin gimana? Dia jalan sama cowok di depanku trus baru aku samperin dia malah gak mengakui aku sebagai pacarnya. Siapa yang nggak sakit hati kalo digituin coba?”, Eri membantah.
“…”, aku terdiam tak bisa berkata apa-apa.

Apakah semua itu benar? Kalau iya, kenapa Eri sepertinya suka sekali ngomongin segala macem tentang Lis? Tentang keluarganya, tentang dirinya bahkan tentang hubungan dan kenangannya bersama Eri.

“Kenapa sih yank suka banget ngomongin dia? Kenapa yank suka banget nyebut-nyebut namanya? Sedangkan Dinda sama sekali nggak pernah ngomongin Bayu seperti yank ngomongin Lis. Dinda muak banget denger namanya.”, aku berujar menahan tangis.
“Iya iya iya… Sori sori yank. Aku nggak sengaja. Maafin ya, jangan marah. Aku gak pengen yank marah ma aku. Aku sayang banget ma yank.”, katanya sambil merayu.
Baca lanjutan cerita…

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

About

pinkAs you can see, i love writing very much! Dan untuk menampung tulisan-tulisanku tersebut aku mutusin buat bikin blog ini. Di sini kamu bakalan nemu berbagai macam tulisanku seperti cerpen, novel, puisi, dll. More...
Hubungi pink atau kirim artikel: klik di sini | Subscribe: Entries (RSS) and Comments (RSS)
Contents © to Pink’s Writing Corner
Poem, poetry, haiku, short story, essay, novel and etc | XHTML-CSS